Mantan Ketum PSSI, Edy Rahmayadi, memberikan kritikan untuk Erick Thohir yang saat ini memimpin PSSI. Ia meminta Menteri BUMN itu untuk mengevaluasi program naturalisasi.
Menurut Edy Rahmayadi, tidak lazim bagi negara dengan penduduk 278 juta jiwa mengambil pemain untuk dinaturalisasi dari negara yang penduduknya cuma 28 juta.
“Indonesia yang berpenduduk 278 juta jiwa menaturalisasi pemain dari negara yang berpenduduk 28 juta. Ini perlu dievaluasi,” kata Edy Rahmyadi, dilansir dari Antara.
Ia merasa saat ini sudah susah untuk mencari pesepak bola. Edy Rahmayadi merasakannya saat berburu pemain untuk memperkuat PSMS Medan di Liga 2 2023/2024.
“Saat ini susah sekali mencari pemain sepak bola. Contohnya, untuk PSMS di Liga 2, saya harus mencari pemain sampai ke Jawa Timur, Jawa Barat. Itu pun harus rebutan. Begitulah sulitnya mencari atlet sepak bola ini,” lanjutnya.
Saran dari Edy Rahmayadi
Purnawirawan perwira tinggi TNI itu meminta PSSI bisa fokus melakukan pembinaan mulai dari akar rumput. Diperbanyak sekolah sepak bola dan lapangan di setiap desa.
“Sekolah-sekolah sepak bola sudah seharusnya diperbanyak. Kalau bisa satu desa satu lapangan. Sekarang ini saya melihat lebih banyak tempat jualan daripada lapangan,” lanjutnya.
Selain itu, juga memanfaatkan pengetahuan Ratu Tisha yang juga merupakan sekjennya saat memimpin PSSI. Ratu Tisha dianggap memiliki pengetahuan sepak bola nasional yang baik.
Sementara itu, saat Edy Rahmayadi menjabat sebagai Ketum PSSI, Timnas Indonesia juga menggunakan jasa pemain naturalisasi, seperti Ezra Walian, Alberto Goncalves, dan Ilija Spasojevic.
Berbeda dengan Erick Thohir yang menaturalisasi pemain khusus untuk pemain yang memiliki darah Indonesia dan memiliki kualifikasi yang top sebagai pesepak bola.